Vampir ternyata hidup di dalam air laut, percaya tidak?

Siapa yang tidak kenal dengan makhluk yang bernama “vampire”? Di era serba canggih ini, semakin banyak bermunculan film dan buku yang mengisahkan makhluk khayalan yang terkenal sebagai penghisap darah dan berkeliaran di malam hari.

Tetapi tahukan anda bahwa vampir ternyata hidup di laut? Vampir yang dimaksud adalah cumi-cumi yang memiliki tubuh merah gelab, mata biru yang besar, jaringan layaknya jubah yang tersebar di “tangan”nya. Karena bentuknya yang menyerupai vampir inilah yang menyebabkan spesies tersebut mendapatkan nama “Vampyroteuthis infernalis” or “vampire squid from hell.” Misteri terus bermunculan pada spesies unik sejak pertama kali ditemukannya di laut sekitar seabad yang lalu.

Vampire squid picture

Meskipun memiliki rupa dan nama yang aneh, vampir cumi-cumi ini bukanlah makhluk penghisap darah. Spesies ini justru memakan plankton mati, alga, kotoran, kerang dan detritus lainnya. Makhluk ini mengumpulkan makanannya dengan menggunakan dua filamen yang panjang dan ber-rambut sebelum membungkus makananya ke bentuk bola berlendir. Hal ini diketahui melalui rekaman video, otopsi, pemeriksaan melalui mikroskop elektron, dan pengamatan langsung cumi-cumi vampir yang disimpan di laboratorium. Hewan ini memang memiliki organ dan sifat yang berbeda dibandingkan hewan “cephalopods” lainnya yang biasa  menangkap mangsanya hidup-hidup.

Vampire squid picture Vampire squid picture

Jangan takut tenggelam dalam Lumpur Hisap!

Bagi yang pernah menonton film action dengan adegan tenggelam dalam lumpur hisap (quick sand), perasaan mengerikan dapat muncul membayangkan susahnya keluar dari lumpur hisap setelah tercebur ke dalamnya. Terutama ketika digambarkan jika kita banyak bergerak didalam lumpur hisap, otomatis badan kita akan semakin tersedot dan tenggelam lebih dalam. Jangan panik, karena kenyataannya seluruh tubuh kita tidak akan ‘tersedot’ masuk ke dalam lumpur hisap. Berdasarkan sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, lumpur hisap tidak memiliki kemampuan untuk membenamkan seluruh tubuh manusia hingga ke dalam. Faktanya adalah, manusia akan mengapung jika tercebur ke dalam lumpur hisap. Wow, mengapa demikian?

Para peneliti di Belanda dan Perancis mempelajari lumpur hisap merupakan gabungan dari pasir halus, tanah liat, dan air garam. Ketika dalam keadaan “diam” atau “istirahat”, lumpur hisap akan mengental seiring dengan berjalan waktunya namun tetap sensitif terhadap variasi kecil dalam tegangan. Dalam keadaan tegangan tinggi, lumpur hisap dapat mencair secara cepat dimana semakin tinggi tegangan tersebut maka lumpur hisap akan semakin cair. Hal inilah yang menyebabkan badan yang terjebak didalamnya tenggelam ketika badan tersebut bergerak.

Akan tetapi, perlu diingat, seseorang yang terjebak dalam lumpur hisap tidak akan tertarik hingga ke paling dalam. Alasannya adalah manusia tidak cukup padat (densitas rendah). Lumpur hisap memiliki densitas sekitar 2 gram per mililiter, sedangkan manusia hanya sekitar 1 gram per mililiter. Pada level densitas demikian, tenggelam dalam lumpur hisap adalah hal yang mustahil terjadi. Badan yang terjebak hanya akan “tenggelam” hingga pinggang dan tidak lebih dari itu.

Bahkan benda dengan densitas yang lebih besar dari lumpur hisap juga akan mengapung, kecuali hingga benda tersebut bergerak. Sebagai contoh, alumunium yang memiliki densitas sekitar 2.7 gram per mililiter akan mengapung diatas lumpur hisap hingga gerakannya menyebabkan lumpur untuk mencair.

Fenomena ini digambarkan oleh peneliti dengan menempatkan manik yang terbuat dari aluminium di atas wadah yang berisi lumpur hisap. Dalam keadaan “tenang” manik tersebut tetap berada di permukaan meskipun memiliki densitas yang lebih tinggi. Ketika wadah tersebut digoyang dengan keras, manik tersebut turun ke bawah.

Nah pertanyaan pun muncul, jika viskositas lumpur hisap berkurang ketika ada gerakan di dalamnya, mengapa sangat sulit untuk keluar dari jebakan lumpur hisap? Jawabannya adalah setelah pencairan awal, viskositas lumpur hisap (ketebalan atau hambatan aliran) meningkat. Peningkatan ini disebabkan karena adanya pembentukan sedimen pasir yang memiliki viskositas sangat tingi. Kesulitan untuk menggerakan pasir yang padat inilah penyebabnya.

Jadi apa yang harus dilakukan jika kita tercebur dalam lumpur hisap? Menurut Daniel Bonn, seorang professor jurusan fisika di Van der Waals-Zeeman Institute, University of Amsterdam, caranya adalah dengan mengerakkan dan meliuk-liukkan kaki kita. Ini dapat memberikan ruang antara kaki kita dengan lumpur hisap sehingga air dapat mengalir ke bawah dan melonggarkan (melebarkan) lumpur tersebut. Gerakan kaki ini dapat dilakukan dengan pelan dan bertahap.

Ajari Anak Matematika Sejak Dini Melalui Tontonan Pertandingan Olahraga di TV

Matematika merupakan mata pelajaran yang tidak banyak disukai oleh anak-anak karena kerumitan rumus dan perhitungan. Bahkan, matematika tak jarang dianggap sebagai pelajaran yang menyeramkan. Oleh karena itu, orang tua sekarang sebaiknya dapat mengenalkan matematika semenarik mungkin kepada anak-anak sedari dini. Bagaimanakah caranya? Simaklah video yang terdapat dalam link di bawah ini.

Belajar Matematika dari Olahraga

Dalam video tersebut, dapat kita lihat bahwa seorang bapak mengajarkan dan melatih anaknya cara dasar berhitung. Sang bapak melatih si anak untuk berhitung dengan menanyakan score pertandingan dan tim yang mana sedang memenangkan pertandingan. Secara tidak langsung sang bapak meminta si anak untuk membandingkan, angka mana yang lebih besar nilainya (antara 3 dan 7)? Ketika sang anak tidak mengerti (kemungkinan karena terlalu teoritis), sang bapak pun memberikan praktek langsung untuk membantu imajinasi si anak. Dibuatlah si anak lebih memahami dengan cara membandingkan score pertandingan dengan jumlah popcorn yang berbeda dalam dua piring. Dengan demikian, si anak dapat melihat dan menghitung langsung angka mana yang lebih besar sehingga si anak dapat mengetahui tim mana yang sedang menang.

Selanjutnya ketika tim lawan berhasil menambah score (dari 3 menjadi 6), sang bapak kembali bertanya “tim manakah yang memenangkan pertandingan dengan tambahan score tersebut?”. Ia pun memberi gambaran dengan menambahkan 3 biji popcorn ke piring yang telah berisi 3 biji popcorn. Si anak pun mengerti bahwa meskipun piring tersebut mendapatkan popcorn tambahan sehingga terlihat lebih banyak (3 ditambah 3 menjadi 6), akan tetapi piring lainnya tetap memiliki jumlah popcorn terbanyak. Dengan demikian, si anak dapat menentukan kembali tim mana yang sedang memenangkan pertandingan. Kesimpulannya, si anak belajar berhitung, menjumlahkan, dan membandingkan angka-angka yang pasti terkandung dalam pelajaran matematika di Sekolah Dasar.

Jadi, dapat dilihat metode sederhana pengenalan matematika yang diterapkan dalam video tersebut. Si anak dibuat tidak terbebani mempelajari matematika karena ketertarikan yang dimunculkan melalui pertandingan olahraga tersebut. Belajar matematika menjadi lebih mengasyikkan dan tidak membosankan. Dan memang inilah yang seharusnya diterapkan dalam sistem pendidikan kita sedari dini. Teori yang dilengkapi dengan praktek bukan hafalan. Dan inilah yang kami terapkan dalam Cendekia Kids and Junior Science Centre.

Apakah ini hewan atau tumbuhan?

Pernahkan muncul dalam benak anda pertanyaan “apakah ini hewan atau tumbuhan?”. Pertanyaan tersebut akan muncul jika anda melihat siput unik yang satu ini, yang dapat ditemukan di rawa-rawa asin di Kanada.

Image

Siput yang telah resmi mendapatkan nama sebagai “elysia chlorotica” diketahui sebagai makhluk pertama yang tergolong “setengah hewan, setengah tumbuhan”. Siput ini tetap memiliki bentuk siput pada umumnya akan tetapi dengan tambahan “daun” layaknya sayap dipunggungnya. Elysia chlorotica diketahui dapat menghasilkan pigmen klorofil seperti tumbuhan yang diperkirakan dengan cara mengambil gen dari alga yang dimakannya  Melalui gen tersebut, makhluk unik ini dapat melalukan fotosintesis untuk menghasilkan energi.

Keunikan inilah yang telah menarik banyak peneliti untuk terus mengamati hewan laut ini. Salah satu diantaranya adalah Sydney Pierce, seorang pakar biologi dari Universitas South Florida, yang telah mempelajari Elysia Chlorotica selama 20 tahun.  Menurut penelitian yang dilakukan Pierce, siput ini merupakan hewan multiseluler pertama yang dapat menghasilkan klorofil.

Hewan ini diketahui pula dapat mengambil bagian-bagian kecil sel yang disebut kloroplas yang digunakan dalam berfotosintesis. Kloroplas berguna dalam fotosintesis dengan memanfaatkan klorofil untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi, layaknya yang terjadi pada tumbuhan. Dengan demikian, siput ini tidak perlu makan untuk mendapatkan energi. Selain itu siput ini ditemukan dapat mengintegrasikan materi genetika sedemikian rupa sehingga dapat diturunkan pada generasi berikutnya. Generasi selanjutnya dari siput ini dapat pula melakukan fotosintesis dengan klorofil yang dihasilkan sendiri, dengan syarat memakan cukup alga untuk mengumpulkan kloroplas. Hal ini dapat membuktikan bahwa DNA dari satu spesies memungkinkan untuk masuk ke spesies lainnya, meskipun secara detil mekanismenya belum diketahui.

Luar biasa bukan ciptaan Tuhan?

Cegah Kanker Payudara dengan Tidur yang Cukup

Tidur memang memberikan banyak manfaat. Dengan tidur, badan yang lelah akibat seharian beraktifitas akan segar dan pulih kembali. Tidur secara jelas dapat menghilangkan kantuk dan meningkatkan konsentrasi ketika bekerja. Tidur diketahui pula dapat mengurangi resiko terkena serangan jantung dan kanker. Salah satu kanker yang dapat dicegah adalah kanker payudara.

Informasi ini didasarkan pada penemuan yang tertera dalam Journal Breast Cancer Research and Treatment yang menyatakan bahwa resiko kanker payudara berkaitan dengan jumlar jam tidur malam. Penelitian tersebut menerangkan bahwa perempuan yang tidur malam kurang dari enam jam selama dalam dua tahun dapat meningkatkan resiko terkena kanker payudara.

Menurut peneliti di Universitas Hospitals Case Medical Center di Cleveland, Ohio, hal tersebut dapat terjadi karena tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri, terutama sel-sel rusak. Kurangnya tidur akan menggangu proses perbaikan tersebut dan memicu timbulnya kanker.

Memang, tidur yang sehat adalah tidur malam selama 8 jam. Apakah tidur malam anda cukup?

Herbivora Rentan Terhadap Perubahan Iklim

Perubahan iklim membuat hewan herbivora atau pemakan tumbuhan lebih rentan terhadap racun. Demikian studi yang dipublikasikan di Journal of Comparative Physiology B pada Mei 2012.

Denise Dearing dari University of Utah di Salt Lake City melakukan beberapa studi di laboratorium yang hasilnya menunjukkan bahwa dalam lingkungan bertemperatur lebih tinggi, kemampuan herbivora untuk menetralisir toksin menjadi lebih rendah.

Salah satu buktinya pada tikus. Peningkatan suhu dari 26 derajat Celsius menjadi 36 derajat Celsius membuat tikus jauh lebih rentan pada kafein. Tikus akan mati saat mengonsumsi seperlima saja dari dosis kematian yang sebenarnya (lethal dose).

Dearin mengungkapkan, hewan menetralisir toksin dengan bantuan organ hati. Menurutnya, dalam temperatur lingkungan yang lebih tinggi, mungkin saja kemampuan hati bekerja menetralisir racun menurun.

Permasalahan makin kompleks sebab ada bukti bahwa dalam temperatur tinggi, tanaman juga memproduksi lebih banyak racun. Dengan fakta ini, maka risiko yang dialami herbivora semakin meningkat.

Masalah lebih besar akan dialami oleh herbivora yang memiliki pilihan pakan sedikit, seperti kijang Arab. Ketika pilihan makanan sedikit dan racun yang diproduksi lebih besar, kijang Arab tak punya banyak pilihan.

Seperti diberitakan New Scientist, risiko selain dialami herbivora juga bisa dialami oleh hewan pada aras trofik lebih tinggi. Karnivora harus bekerja ekstra menetralisir racun dari tubuh herbivora.

Pemanasan Global Meningkatkan Kapasitas Pohon Untuk Menyerap Karbon

Saat ini pemanasan global telah berada pada tingkat yang semakin mengkhawatirkan hingga diperlukan langkah-langkah untuk mencegah dan menguranginya. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menanam lebih banyak pohon dan melindungi hutan. Pohon dan tetumbuhan lainnya menyerap karbon dioksida selama proses fotosintesis. Proses ini mampu mengurangi gas rumah kaca yang paling melimpah di atmosfer tersebut dan menyimpannya di dalam jaringan kayu.

Suatu riset terbaru yang dipimpin oleh Jerry Melillo dari Marine Biological Laboratory (MBL) selama 7 tahun memperlihatkan bahwa pemanasan global dapat mempengaruhi kapasitas penyimpanan karbon dari pohon. Studi ini dilakukan di hutan Harvard tengah kota Massachussets dengan luas sekitar seperempat acre (sekitar 1000 m2). Hutan ini dihangatkan secara buatan sekitar 9°F di atas suhu normal untuk mensimulasikan keadaan pemanasan global dan respon tumbuhan terhadap kondisi tersebut.

Studi sebelumnya menjelaskan bahwa naiknya temperatur tanah dapat meningkatkan dekomposisi materi organik tanah sehingga pelepasan karbon dioksida juga meningkat. Tetapi studi ini juga menunjukkan bahwa temperatur yang lebih hangat menstimulasi tumbuhan untuk menyerap lebih banyak karbon sebagai jaringan kayu. Hal tersebut dipengaruhi oleh senyawa nitrogen yang terbentuk saat temperatur tanah meningkat. Sebagian besar hutan di daerah subtropis hingga sedang, seperti di daerah Amerika Utara, Eropa, dan Eurasia kekurangan senyawa nitrogen untuk tumbuh kembangnya. Sehingga dengan meningkatnya senyawa nitrogen yang diserap tumbuhan dapat mempercepat pertumbuhannya.

Pemanasan pada tanah membuat senyawa nitrogen yang terdapat pada materi organik tanah terlepas sebagai senyawa nitrogen anorganik seperti ammonium. Ammonium merupakan komponen utama yang terdapat pada pupuk buatan. Ketika tumbuhan menyerap senyawa nitrogen anorganik ini pertumbuhannya akan semakin cepat dan mampu menyerap lebih banyak karbon.

Proses biologis yang menghubungkan pemanasan tanah, meningkatnya penguraian materi organik, peningkatan senyawa nitrogen, dan peningkatan pertumbuhan pohon terlihat berhubungan erat untuk hutan daerah subtropis. Namun hasil studi ini kurang relevan diterapkan untuk hutan tropis karena studi ini dilakukan di daerah hutan subtropis yang kekurangan nitrogen. Sementara hutan tropis melimpah akan senyawa-senyawa nitrogen.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.