Senyawa Kimia Berbahaya di Sekitar Hidup Kita

Sebelum mengulas bahaya dari senyawa kimia tertentu, satu hal yang perlu kita pahami bahwa tidak semua senyawa kimia berbahaya. Hello, sudah saatnya keluar dari anggapan masyarakat yang menyatakan demikian. Nyatanya, kehidupan kita sangat dekat dengan senyawa kimia, entah berbahaya atau tidak. Salah satu senyawa kimia yang sangat bermanfaat dan dekat dengan kehidupan kita adalah oksigen (O2) yang setiap saat kita hirup. Tanpa oksigen yang disediakan gratis oleh Allah SWT, dapat kita bayangkan betapa sulitnya hidup kita.

Namun, kita juga harus mengetahui senyawa-senyawa kimia yang berbahaya agar tidak terjadi penyalahgunaan dan akhirnya mendzalimi diri kita dan orang di sekitar kita. Salah satu senyawa kimia berbahaya terdapat dalam plastik. Hampir setiap hari kita berinteraksi dengan polimer berbahaya ini – dalam jenis apa pun. Setiap membeli nasi, hendak beli air mineral atau minuman lain, semua berwadah plastik.

Plastik merupakan suatu polimer (molekul raksasa) sintetik atau polimer termoplastik (polimer yang akan melunak apabila dipanaskan dan dapat dibentuk sesuai pola yang kita inginkan) berbahan baku gas yang kemudian mengalami polimerisasi. Pada proses ini, tidak semua gas dapat terbentuk menjadi polimer sehingga sebagian gas terperangkap dalam keadaan tidak berikatan dan tidak dapat keluar. Akibatnya adalah zat ini mudah menguap apabila bersentuhan dengan benda-benda bersuhu tinggi. Hasil penguapan kemudian masuk ke dalam air, minyak, atau apa saja yang bersinggungan langsung dengan plastik. Apabila zat tersebut masuk ke dalam metabolisme dan menumpuk di dalam tubuh, kemungkinan terbentuk kanker akan semakin besar.

Untuk mengetahui tingkat keamanan plastik, kita harus mengetahui bahan plastik yang aman digunakan, lihatlah nomor-nomor yang tertera pada kemasan. Nomor itu biasanya berada di dalam segitiga tanda panah melingkar dibagian bawah kemasan botol atau wadah plastik. Setiap nomor menunjukkan bahan yang digunakan.

  • Nomor 1: Polyethylene terephtalate (PTE atau PETE), biasa digunakan mengemas air minum, minuman ringan berkarbonasi, jus buah-buahan, minyak goreng, saus, jeli, selai.
  • Nomor 2: High density polyethylene (HDPE), biasa digunakan untuk mengemas susu, yogurt, & botol galon air minum
  • Nomor 4: Low density polyethylene (LDPE), biasa digunakan sebagai plastik kemasan rapat (cling wrap), pengemas roti, makanan beku dan botol plastik yang dapat ditekan.
    Nomor 5: Polypropylene (PP), biasa digunakan untuk mengemas sup, saus tomat dan margarin.

Di antara jenis plastik tersebut yang relatif paling aman dan telah mengalami uji dan evaluasi badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) adalah PET (nomor 1).
Jadi, bila botol air minum kita bertanda nomor 1, berarti terbuat dari PET & plastik itu aman untuk kemasan makanan atau bersifat food grade. Berikut adalah jenis plastik yang penggunaannya tidak diperbolehkan untuk bahan pangan karena mengandung bhn berbahaya yg dpt berpindah ke makanan.

  • Nomor 3: Polyvinyl chloride (PVC atau disebut vinil). Plastik ini sering dibuat cling wrap. Sering juga dipakai untuk wadah kue kering atau cokelat. Ada juga botol plastik yang dapat ditekan (untuk pengeluaran
    bahan) terbuat dari PVC.
  • Nomor 6: Polystyrene (PS), sangat dikenal konsumen dlm bentuk kemasan stereofom seperti yang digunakan untuk mengemas buah & sayuran di toko-toko swalayan.
  • Nomor 7: Jenis plastik lainnya, terutama polycarbonate. Plastik ini mengandung bisphenol-A yang berbahaya dan dapat bermigrasi. Plastik ini tahan suhu tinggi. Ada yang menggunakan sebagai botol susu bayi dan alat-alat makan (sendok, garpu, pisau) plastik.

Selain plastik, yang perlu kita perhatikan adalah penggunaan zat warna yang tidak terdaftar dalam BPOM. Sering kali beberapa dari kita tidak selektif terhadap apa-apa yang dikonsumsi. Salah satunya adalah makanan yang menggunakan saos berwarna menarik, merah sekali, seperti bakso cilok, batagor, dan lain sebagainya. Padahal jika kita mau menelusuri zat warna yang digunakan, kita justru akan tercengang. Zat warna yang digunakan adalah Rhodamin-B yang merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999.

Efek negatifnya yaitu dapat menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Bila menguap di udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang hidung, tenggorokan, dan mata. (Depkes RI, 2007).

Memang dampak negatif tersebut tidak akan terbukti dalam jangka waktu yang pendek setelah mengonsumsinya, namun hal itu akan berangsur-angsur terjadi dalam tubuh kita (alergi, iritasi, dll, red).

Cara untuk mengetahui zat warna yang digunakan adalah zat warna berbahaya:

  • Ambil kain warna putih
  • Oleskan saos
  • Ratakan dengan punggung sendok
  • Lihat hasilnya, bagian kain teroles saos yang berwarna adalah saos yang memiliki kandungan bahan berbahaya (pewarna) yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan saos dengan pewarna alami

Namun ironisnya, kita sering menggembor-gemborkan bahwa ini berbahaya, itu berbahaya tanpa menyadari bahwa yang setiap hari kita konsumsi adalah sesuatu yang berbahaya. Dua hal tersebut hanya sedikit dari senyawa kimia berbahaya yang dekat dengan kehidupan kita. Masih banyak senyawa kimia lain seperti MSG dan pengawet makanan. Oleh karena itu, lebih baik melakukan tindakan preventif guna mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi dengan berhenti mengonsumsi saos yang diragukan kualitasnya, tidak menggunakan plastik yang tidak sesuai dalam kondisi tertentu (misal: panas). semoga kita terhindar dari dampak buruk senyawa kimia berbahaya.

sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Iklan

Eksperimen Sains : Kentang Api

Hemat energi… !! Hemat energi… !!
itulah seruan yang sering kita dengar ketika kita membicarakan tentang energi…. hemat….
Tapi,,,jangan khawatir kawan-kawan… ada energi alternatif yang bisa kita temukan dalam bahan-bahan yang mudah sekali kita dapat….
Yuuk… kita coba,,,, 🙂

Yang perlu kawan-kawan siapkan adalah :
1. kentang
2. pasta gigi
3. garam
4. tusuk gigi 2 buah
5. kabel 2 buah
6. pisau
7. kapas
8. sendok
9. stopwatch
10. korek api

Naah…bagaimana caranya ??? lets check it out…. 🙂 🙂








 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa kata Sains ??

Apa yang terjadi?? yaitu fluoride dalam pasta gigi sekaligus garam akan membentuk suatu elektrolit yang bereaksi terhadap tembaga dan seng (lapisan pada kawat kabel) yang salah satu ujungnya dalah sebagai katoda dan ujung satunya anoda. Kemudian dengan menunggu 5 menit akan memungkinkan bahan kimia yang ditempatkan di dalam kentang bereaksi dan membentuk sebuah muatan listrik. Dan kentang yang kita gunakan bertindak sebagai baterai, kemudian panas akan dihasilkan oleh kosleting kedua ujung kabel dalam kentang sehingga memicu nyala api pada kapas.


Seruu kan,,,, Selamat mencoba di rumah,,,, ^_^




Bahaya Tas Plastik Untuk Hutan Kita Tercinta

Tas plastik yang kita dapatkan sehari-hari dari pasar, warung, atau supermarket ternyata bisa berujung panjang, bahkan membahayakan kelestarian hutan kita. Selain itu, plastik yang berakhir di laut akan mengancam hidup hewan serta ekosistem laut.

Ternyata selain berbahaya bagi hewan-hewan laut, plastik juga bisa berbahaya untuk ekosistem hutan. Menurut Eart Hour Indonesia dan situs berita lingkungan Mongabay Indonesia, dampak sampah plastik selain mengotori hutan, juga merusak siklus pertukaran udara dalam tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Racun-racun dari partikel plastik yang masuk dalam tanah juga akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing. Siklus air juga jadi terganggu jika banyak sampah plastik di tanah. Akibatnya air tidak dapat terserap meski banyak pohon di hutan.

Produksi plastik juga membutuhkan minyak bumi, setiap tahunnya sekitar 2 juta liter minyak bumi tak terbaharui untuk memproduksi kantung plastik.

Sebagian minyak bumi ini diambil dari pertambangan di tengah hutan. Artinya, kita harus membuka hutan untuk mengambil minyak bumi yang kemudian kita gunakan untuk membuat kantung plastik. Belum lagi jika kita menghitung gas rumah kaca yang dihasilkan saat produksi kantung plastik.

Kegiatan daur ulang membutuhkan proses panjang dan harganya pun tak murah, sehingga belum maksimal untuk mengurangi bahaya kantung plastik. Cara paling efektif untuk mengurangi dampak kantung plastik pada hutan atau lautan kita adalah dengan mengurangi penggunaannya.

Hal termudah yang bisa kita lakukan adalah dengan menolak kantung plastik saat ditawarkan di tempat kita biasa mendapatkannya saat belanja.

Apakah Anda sudah menolak kantung plastik saat belanja? Apa yang bisa membuat Anda lepas dari kantung plastik?

Makanan yang Jatuh, Masihkah Bisa Kita Makan ??

Seringkali terjadi dilema saat penganan yang kita konsumsi jatuh ke lantai. Masih boleh dipungut dan disantap, atau harus dibuang karena sudah tercemar kuman? Sekelompok ilmuwan di Inggris  mengadakan penelitian terkait masalah ini. Asumsi bahwa makanan tidak terkontaminasi jika diambil dengan cepat, atau di bawah 1 menit, telah diyakini selama bertahun-tahun. Tapi belum ada bukti luas bahwa hal ini terjadi.

Berlandaskan masalah ini, Manchester Metropolitan University (MMU) menguji lima makanan untuk melihat apakah aturan tiga detik bisa dipercaya.
Dalam metode uji, para peneliti menjatuhkan roti dengan selai, pasta, ham, biskuit dan buah kering dan dibiarkan selama interval tiga, lima dan 10 detik di atas lantai. Makanan tersebut dipilih karena mereka adalah makanan yang biasa dimakan dan semua memiliki tingkat aktivitas air yang berbeda. Sebuah faktor kunci dalam kandungan makanan itu akan mempertahankan pertumbuhan bakteri dalam tiga detik sebelum makanan dipungut dari lantai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan dengan garam tinggi atau berkadar gula, seperti roti dengan selai, lebih aman untuk dimakan setelah dipungut. Hal itu karena kesempatan bakteri berbahaya yang masih hidup pada item tersebut berkurang. Makanan olahan menimbulkan risiko terendah. Umumnya makanan tersebut mengandung kadar tinggi gula dan garam.

“Roti dan selai tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri setelah terjatuh di lantai. Hal itu dikaitkan dengan kandungan gula yang tinggi dari membuatnya tidak mungkin untuk mendukung pertumbuhan mikroba,” ungkap Kathy Lees, salah seorang peneliti seperti dikutip dari ZeeNews.

Ham, produk asin, dan roti manis dan selai bernasib juga masih dalam keadaan baik. Ketika diambil dari lantai dalam waktu tiga detik, bahan makanan itu menunjukkan sedikit tanda pertumbuhan bakteri.

Sementara diketemukan pada buah kering dan pasta. Makanan jenis ini menunjukkan tanda-tanda Klebsiella setelah tiga detik. Klebsiellae adalah golongan bakteri yang berpotensi menyebabkan berbagai penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran kemih, septikemia, dan kondisi jaringan lunak ditemukan pada makanan yang sudah jatuh ke lantai.

Jadi, pastikan jenis makanan apa yang jatuh ke lantai sebelum memutuskan apakah masih bisa disantap atau harus dibuang.

Eksperimen Sains : Pembersih Uang Logam Kotor

Kawan-kawan pasti tidak asing lagi dengan koin,,,dengan koin atau uang logam kita bisa membeli permen dan makanan kecil lainnya yang harganya murah,,, ^_^ Atau kawan-kawan bisa menabung uang logam itu ke dalam celengan… Naah…untuk menyimpan uang itu ke dalam celengan alangkah baiknya jika koin kita bersih dan mengkilat,,, jadi,,,kalau di dalam celengan tidak kotor,,,
Mau tau caranya bersihin uang logam….caranya mudah sekali loo,,,
ada 3 cara,,,kawan-kawan bisa memilih cara mana yang paling disukai,,,,

Ayooo dicoba di rumah,,,, 🙂

1) Dengan menggunakan cuka dan garam.

Yang perlu kawan-kawan siapkan adalah :
–  Cuka, Garam, Gelas plastik dan Koin uang logam

Langkah-langkahnya adalah :
– masukkan cuka ke dalam gelas plastik
– tambahkan satu sendok garam dan aduk

 

 

 

 

– masukkan koin pada larutan tersebut

 

 

 

 

 

–  diamkan selama beberapa menit (kira-kira 5 menit)

 

 

 

 

– Ambil koin yang ada pada larutan, biarkan kering selama beberapa menit atau dikeringkan dengan kain, dan kemudian didapatlah  koin bersih,,, 🙂

 

 

 

 

 

2) Dengan menggunakan  Saos tomat

Yang perlu kawan-kawan siapkan adalah :
–  Saos, Gelas kecil dan Koin uang logam

Langkah-langkahnya adalah :
– masukkan saos pada gelas kecil

 

 

 

 

 
– masukkan koin uang logam pada saos tadi

 

 

 

 

 
– cuci dengan air panas,,,dan koin akan menjadi bersih,,, 🙂

 

 

 

 

 

3) Dengan menggunakan  Coca-cola

Yang perlu kawan-kawan siapkan adalah :
–  Coca-cola, Gelas plastik atau toples dan Koin uang logam

Langkah-langkahnya adalah :
–  masukkan koin dalam toples/gelas plastik

 

 

 

 

 

–  tuang coca-cola ke dalam toples yang sudah berisi koin sampai semua koin terendam

 

 

 

 

 
–  biarkan selama 5-6 jam (untuk hasil yang baik goyang-goyangkan atau bolak-balikkan toples)

 

 

 

 

 

–   cuci dengan air hangat atau air panas,,,dan koin akan menjadi bersih,,, 🙂

 

 

 

 

 

Apa Kata Sains ??

cuka, saos dan minuman cola mengandung asam. Asam ini bereaksi dengan kotoran pada koin, sehingga koin menjadi bersih,,,

Nice try kawan-kawan,,,, ^_^ 🙂 🙂 🙂

 

Eksperimen Sains : Kol Ajaib

Ayoo…kita coba dirumah…
Dengan percobaan ini kawan-kawan akan membuat kol jadi berwarna-warni….

Yang perlu kawan-kawan siapkan adalah :
– Kol ungu yang dipotong kecil-kecil
– Toples
– Gelas plastik
– Air panas
– Cuka
– Cairan detergent

Oke,,,ayo kita coba,,,
1. Rendamlah potongan kol ungu di dalam air panas, biarkan sampai menjadi dingin.
2. Pisahkan cairan dari ampas kol ungu. Dan kita akan mendapatkan larutan berwarna biru ungu.
3. Tuang sebagian larutan ini ke dalam gelas yang berisi cuka.
4. Tuang sebagian lagi ke dalam gelas yang berisi larutan detergent.
5. Amati apa yang terjadi ???

       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apa kata Sains ?

Larutan kol ungu akan berubah menjadi merah ketika bertemu cuka, dan berwarna hijau ketika bertemu cairan detergent. Mengapa hal ini terjadi??
Beberapa jenis tanaman, termasuk kol ungu, mengandung zat berwarna biru yang disebut dengan antosianin. Antosianin bersifat unik, yaitu bisa berubah warna di dalam cairan yang berbeda. Di dalam cairan yang bersifat asam seperti cuka, asam sitrat, air perasan jeruk nipis, antosianin akan berubah warna dari merah muda hingga merah. Di dalam cairan yang bersifat basa seperti cairan detergent, larutan soda kue, cairan obat sakit maag, antosianin akan berubah warna menjadi hijau. Sedangkan dalam larutan yang bersifat netral seperti larutan garam atau gula, antosianin akan berwarna biru. Zat warna yang bisa berubah warna seperti ini biasa disebut dengan sebuah indikator.

Naah,,,,teman-teman bisa mengubah warna larutan kol ungu dengan indikator lain loo,,,jadi tidak harus memakai cuka sama detergent…seperti yang telah disebutkan diatas,,,

Have a nice try kawan-kawan,,,,, ^_^

Wah,,,Sekarang Ada Kertas Tahan Air

 Ilmuwan di Istituto Italiano di Tecnologia (IIT), Italia, berhasil membuat kertas yang tahan air, bersifat magnetis, dan bebas bakteri tanpa mengubah sifat dasar kertas.
Proses teknologi nano yang digunakan memastikan bahwa kertas yang dihasilkan tetaplah seperti yang kita kenal, bisa ditulisi atau digambari, dimasukkan ke printer atau mesin fotokopi, atau dilipat-lipat menjadi prakarya.
Dr. Roberto Cingolani yang mengepalai tim ilmuwan menjelaskan bahwa proses pengolahan kertas ini dilakukan dengan mengambil molekul tunggal (monomer) pada kertas. Kemudian dipasangkan dengan partikel nano sehingga terbentuk sebuah polimer yang kemudian disebarkan dalam cairan.
Senyawa akhir yang dihasilkan berupa matrik polimer yang berisi partikel-partikel nano. Proses teknologi nano ini, yaitu mencampur sejumlah monomer dengan berbagai tipe partikel nano, mendasari terciptanya bermacam-macam karakter saat diaplikasikan pada kertas.
Jika partikel nano berupa besi oksida ditambahkan ke matrik polimer, maka akan dihasilkan kertas magnetik; sementara partikel nano perak akan menghasilkan kertas bebas bakteri. Proses yang sama juga bisa diterapkan untuk menghasilkan kertas tahan air, kertas yang mampu membersihkan diri sendiri atau kertas yang dapat bersinar dalam gelap (fluoresensi).
Senyawa yang dihasilkan kemudian diinjeksikan ke kertas atau bisa juga ke material lain seperti kain. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara digulung atau dicelup. Tapi ingat, hasilnya bukanlah berupa kertas yang berlapis senyawa, melainkan selubung tiga dimensi lembut yang menyebar di tiap-tiap serat kertas.
“Kertas bebas bakteri dapat digunakan untuk mengemas makanan dan aplikasi medis,” kata Dr. Cingolani. “Kertas fluoresensi dan magnetis bisa digunakan untuk kepentingan keamanan dan catatan bank atau perlindungan mata uang atau dokumen penting lainnya. Sementara kertas tahan air bisa digunakan untuk dokumen pusaka,” pungkasnya.
Kalau peneliti Italia kabarnya berhasil menemukan kertas tahan air, bagaimana dengan yang satu ini???
Ide bisa datang dari mana saja. Bisa dari melihat referensi bagus, atau mungkin saja saat asik mandi. Repotnya ide yang datang di kamar mandi, kalau kita pelupa biasanya ide itu menguap setelah acara mandi selesai.
Nah, ide ini yang mendasari seorang Shower Thinker – demikian sang penemu ini ingin disebut, jelasnya lihat di myaquanotes.com, menciptakan notes tahan air. Notes ini dilengkapi pensil yang juga tahan air.
Dalam promosinya, produk notes plus pensil ini sangat ramah lingkungan. Bisa didaur ulang dan batang pensilnya terbuat dari kayu cedar yang pengelolaannya mengikuti syarat perlindungan lingkungan.
Aquanotes sudah diproduksi besar-besaran, harga jualnya sekitar  9.95 Dollar Amerika untuk notes berisi 40 lembar.Apakah anda tertarik membeli?
Sumber: